Desa Banyusoco

Gunungkidul

Tentang Desa Banyusoco

Konon katanya, Banyusoco berarti “sumber air suci” yang ditemukan oleh seorang sunan di antara kesembilan Wali Songo.
Desa Banyusoco merupakan bagian dari Kecamatan Playen di Kabupaten Gunungkidul. Desa Banyusoco memiliki 8 padukuhan yang dikelilingi oleh hutan kayu jati dan kayu putih milik negara. Hutan ini dikelola oleh negara bersama masyarakat. Pada tanggal 27 Oktober 2021, desa ini ditetapkan sebagai desa wisata dengan berbagai kekayaan budaya dan sumber daya alam serta potensi wisatanya.

Lokasi Desa Banyusoco

Sosial-Budaya Masyarakat

Kenduren

Merupakan acara perjamuan makan yang dilakukan warga Desa Banyusoco untuk berbagai tujuan. Kenduren menjadi sorotan dan cara utama dalam berbagai acara yang dilakukan masyarakat seperti selametan, syukuran, labuhan, dan rasulan.

Labuhan dan Rasulan

Labuhan dan Rasulan adalah dua perayaan yang erat kaitannya dengan siklus tanam dan panen yang penuh makna. Labuhan, sebagai awal perjalanan tanam, dirayakan dengan khidmat dalam doa dan harapan. Namun, ketika waktu panen tiba, Rasulan hadir untuk menghiasai momen tersebut dengan penuh kegembiraan dan syukur yang meluap-luap atas keberhasilan panen yang melimpah.

Tradisi Tahunan

Dalam 1 tahun, terdapat 7 tradisi yang dilakukan di salah satu padukuhan di Desa Banyusoco, Dukuh Kepek 1. Yaitu Ruwahan sebelum Ramadhan, Selikuran di bulan Ramadhan, Memperingati Malam Suro di bulan Muharram, Maulid Nabi, Qurban, Labuhan, dan Rasulan.

Arisan

Arisan adalah kegiatan kumpul-kumpul warga, mirip dengan nongkrong. Ada banyak kegiatan arisan yang dilakukan di Banyusoco. Tujuan kegiatan ini sendiri untuk mempererat hubungan antar masyarakat. Arisan dapat dilakukan pada siang hari atau malam tertentu. Setiap kelompok masyarakat memiliki jadwal arisannya tersendiri, misalnya arisan kelompok tani, arisan RT, dan arisan trah (masyarakat yang saling terhubung melalui garis keturunan).

Wisata

Kali Oya

Kali Oya adalah sungai panjang yang melalui Desa Banyusoco dan air terjun Sri Gethuk di Desa Bleberan. Kali ini menyuguhi pemandangan hutan jati yang menarik untuk dikunjungi, terutama pada pagi atau sore hari. Kali Oya juga menyediakan pengalaman rafting yang mendebarkan sepanjang 12,5 km

Bumi Perkemahan Kedungwanglu

Bumi Perkemahan Kedungwanglu ini dikelilingi pepohonan rindang dan dekat dengan Kali Oya yang bersih dan jernih. Perjalanan menuju Bumi Perkemahan Kedungwanglu pun ditemani pemandangan hutan di kiri-kanan. 

Taman Edukasi Madu Bronto

Taman Edukasi Madu Bronto merupakan kawasan edukasi berbasis lingkungan. Terdapat taman baca dan lingkungan yang asri sehingga cocok untuk dijadikan tempat rekreasi keluarga. 

Hutan Jati dan Hutan Kayu Putih

Sebagian besar wilayah Desa Banyusoco didominasi oleh keberadaan pohon jati dan pohon kayu putih. Perjalanan melalui Desa Banyusoco terasa menarik pada sore hari, dengan sinar matahari menembus melalui sela-sela pepohonan dan pemandangan perbukitan.

Potensi Sumber Daya Alam

Kayu Jati dan Kayu Putih milik Negara

Penyulingan Minyak Kayu Putih

Madu Lebah Kayu Putih

Tempe Kedelai

Gula Kelapa

Pertanian dan Peternakan

Sejarah Kepek, Salah satu Padukuhan di Banyusoco

Desa Banyusoco terdiri dari 8 padukuhan. Salah satunya adalah Dukuh Kepek I yang menjadi salah satu lokasi KKN kali ini. Padukuhan ini punya ceritanya sendiri.

Diceritakan, orang pertama yang menemukan Dusun Kepek adalah Mbah Ky Trunoyoso. Ia dahulu menetap dan membuat gubuk di bawah sebuah tanaman kayu epek, ras beringin. Pohon ini selanjutnya disebut ngepek dan seiring perkembangan zaman disebut KEPEK. Mbah Ky Trunoyoso bersama istri dianugerahi anak pertama yang diberi nama Banjir. Nama tersebut diberikan setelah Mbah Trunoyoso dan istrinya hendak pergi ke dusun terdekat untuk mengenalkan anaknya namun terhalang hujan lebat dan banjir sehingga mereka mengurungkan niat untuk pergi. Sementara itu, anak keduanya diberikan nama Sakri.

Dalam kesehariannya, Mbah Trunoyoso mencukupi kebutuhan hidup dengan bertani dan berburu, tak jauh berbeda dengan masyarakat Dusun Kepek saat ini. Beliau menggali sumber air yang hingga saat ini masih ada, yaitu Sumur Kayu Ijo dan Sumur Cangkring.

Sumur Kayu Ijo dipercayai dijaga oleh sosok yang dikenal dengan Ky Galengsong. Di sekitar sumber air ini, tumbuh tumbuhan seperti klumpit, jo, kepel, ringin, dan jambu air. Saat ini, wilayah Sumur Kayu Ijo digunakan untuk balai Dusun Kepek II dan sumber air bersih untuk warga sekitarnya.

Sumur Cangkring berada di tanah lungguh, di perbatasan dusun sebelah selatan. Sumur ini dijaga atau ditunggui oleh sosok gaib yang dinamai Ky Buntu Alu. Nama SUmur Cangkring berasal dari tanaman yang tumbuh besar di dekat sumur itu, sebuah pohon kayu cangkring yang besar. Bagi warga Kepek, tumbuhan tersebut dibutuhkan untuk mengobati penyakit cacar air. Pengobatannya dilakukan dengan memasukkan daun cangkring ke air panas yang nantinya digunakan untuk mandi.

Ada sebuah kepercayaan masyarakat terkait tumbuhan cangkring ini. Diyakini, tumbuhan cangkring akan lebih manjur apabila dalam pengambilan daunnya dengan cara dilempar dari bawah menggunakan media lempar apa adanya. Apabila dalam lemparan ketiga tidak didapati daun cangkring, maka harus diulang di hari berikutnya. Hal ini dipercayai karena pada saat itu penunggu pohon tersebut tidak mengizinkan untuk mengambil daun cangkring dari pohonnya.

Dalam urusan tata pemerintahan dan jumlah penduduk, perkembangan Dusun Kepek terhitung sangat pesat. Keturunan Mbah Trunoyoso, Mbah Wiryo Setiko, dijadikan dukuh pertama Padukuhan Kepek yang saat ini bernama Padukuhan Kepek II. Perkembangan penduduk sangat cepat dan merambah hingga ke seberang jalan jalur Kapanewon Playen — Kelurahan Banyusoco. Jalan ini dulunya hanya tanah trukan atau tegalan keluarga Mbah Trunoyoso.

Melihat perkembangan jumlah penduduk tersebut, Lurah Banyusoco saat itu, KRT Radyo Kartono membagi wilayah Padukuhan Kepek menjadi dua dengan luasan dan jumlah penduduk yang hampir sama dengan dibatasi oleh jalan penghubung antara Kapanewon Playen dan Kalurahan Banyusoco. Hingga saat ini, Padukuhan Kepek dipisah menjadi Kepek I dan Kepek II.